Sabtu, 29 Oktober 2011

Keikhlasan Yu Timah




Belajar Keikhlasan
Sebuah pelajaran berharga
tentang keikhlasan
justru datang
dari sesorang yang sering
kita anggap bukan
siapa - siapa
Usia Yu Timah sekitar 50-an, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Menginjak remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran PRT. Dia kembali ke kampung. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu d id irikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.  Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Anak itu pun harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan PRT dan lagi-lagi terdampar di Jakarta .
Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untunglah di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
”Saya mau beli kambing qurban, Pak. Kalau 600 ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing qurban.
”Iya, Yu. Senin lusa uang Yu Timah akan diberikan sebesar 600 ribu. Tapi Yu,sebenarnya kamu tidak wajib berqurban. Yu Timah bahkan wajib menerima qurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing qurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berqurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging qurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran qurban yang diwariskan Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu.
Duhai Yu Timah. Kamu yang belum naik haji, atau malah tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berqurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing qurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar.Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Valentino Rossi kapok ke Indonesia


Sebelumnya minta maaf kepada para fans Rossi yang kemungkinan akan kecewa setelah melihat berita ini..
The Doctor yang musim ini pindah ke pabrikan Ducati menyatakan dalam jumpa pers setelah seri Jerez bahwa dirinya tidak akan mengunjungi negara Indonesia lagi,
namun alasannya bukan karena Indonesia bukan pangsa pasar yang besar untuk pabrikan Ducati tapi lebih dikarenakan beberapa kekecewaan Rossi saat berkunjung ke Indonesia.

Berikut beberapa alasan yang dikemukakan Rossi mengenai Indonesia:

Rossi sangat menyesalkan bahwa kota besar seperti Jakarta masih diganggu masalah banjir,
bahkan dia kesal karena dalam 1 hari dia harus ke steam motor 3x karena motornya kecipratan lumpur kontainer di daerah Priuk.
The Doctor juga sangat menyesalkan mengapa harga bahan bakar di Indonesia yang notabene memiliki tambang minyak sendiri sangat mahal harganya,
Rossi mengaku dirinya marah saat motornya mogok di sirkuit sentul dan setelah diteliti ternyata bahan bakar yang dibelinya adalah oplosan
30% bensin 45% minyak tanah dan 25% spirtus.
bahkan Rossi menyatakan bahwa dia sudah berniat untuk tidak mengunjungi Indonesia sejak harga Pertamax naik menjadi Rp 8.700,-
kekesalan Rossi untuk tidak mengunjungi Indonesia makin memuncak tatkala terakhir berkunjung dan mencoba trek Ciledug-Blok M , ada anak indonesia ngajak trek.
Dirinya gagal mencapai finish di terminal mendahului Metromini 69 dikarenakan ban motornya 2x kempes karena "ranjau" paku yang ada di sekitar Kreo-Cipulir-Kebayoran
emosi Rossi makin memuncak tatkala pada saat itu beberapa tukang ojek malah meledeknya saat ia menuntun motor ke tambal ban terdekat.

Setelah melihat alasan-alasan tersebut diatas memang lumrah bila The Doctor berencana untuk tidak mengunjungi Indonesia lagi.

Tapi rossi mengatakan kalo dia juga tidak akan melupakan kenangan - kenangan indah di indonesia yang belum pernah dia rasakan sejak kecil.

Berikut ini kenangan indah rossi selama berkunjung di indonesia yang berhasil di abadikan

Antar Ibu RT pergi ke pasar tanah abang.

Sempat main kartu di pos gardu bersama warga kampung

Muter-muter seharian besama tukang ojek sepeda di tanjung priok

namun anda tidak perlu kecewa, karena pabrikan Yamaha akan mengajak rider barunya yang merupakan pengganti Rossi
untuk berkunjung ke Indonesia pertengahan tahun ini.
Inilah pembalap debutan tim Fiat Yamaha yang digadang-gadang akan berprestasi sama seperti Rossi,

Berita ini pasti hanya bohongan. Just kidding ....xixixixi..
Semoga saja anda - anda bisa terhibur